PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK SETTING KOOPERATIF

Posted: 23 November 2011 in Seminar Matematika

PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK 

SETTING KOOPERATIF

STKIP PGRI TULUNGAGUNG

Oleh:

1.  AHMAD YASIN       (Moderator)

2. ENY ENDRAWATI      (Pemakalah)

3. JESSY PRIMANANDA A.     (Notulen)

4. RIA LENY SUSANTI     (Aggota)

5. ARIEF FERIAJI   (Anggota)

PROGAM PENDIDIKAN MATEMATIKA

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)

PGRI TULUNGAGUNG

2011

Abstrak

PMR pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu. Tidak mudah untuk merubah pandangan yang mendasar tentang berbagai hal, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal, sedang perubahan itu merupakan syarat untuk dapat diterapkannya PMR.

Model pembelajaran  yang dimaksud dalam seminar ini adalah suatu pola yang digunakan sebagai petunjuk atau pedoman dalam merencanakan pembelajaran matematika di kelas sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, salah satunya yaitu: kita menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar.

 

Kata kunci: Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), pembelajaran kooperatif

 

A.      PENDAHULUAN

Pada umumnya, masalah pembelajaran matematika tampak dalam bahwa sudah cukup lama kita semua terbenam dalam pembelajaran matematika yang bagi banyak orang terasa asing, formal, dan hanya bermain angka atau simbol yang sulit dan serba tak berarti, bahkan tidak sedikit yang merasa ketakutan untuk menghadapi pelajaran matematika. Untuk mengatasi masalah pembelajaran seperti itu, maka diperlukan inovasi di bidang pembelajaran matematika. Salah satu hasil inovasi di bidang pembelajaran matematika adalah Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

Ada kecenderungan untuk belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran matematika di kelas seyogyanya ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) adalah  Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) setting kooperatif.

B.            PEMBAHASAN

1.        Pembelajaran Matematika

Depdiknas (2003) menekankan bahwa dalam mengelola pembelajaran matematika, siswa dikondisikan untuk menemukan kembali rumus, konsep, atau prinsip dalam matematika melalui bimbingan guru. Ditegaskan bahwa belajar akan bermakna bagi siswa apabila mereka aktif dengan berbagai cara untuk mengonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Berdasarkan penekanan yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu bentuk kegiatan pembelajaran yang mengutamakan keterlibatan siswa untuk membangun pengetahuan matematikanya dengan caranya sendiri. Dalam kegiatan tersebut guru berperan sebagai fasilitator dan mediator.

2.        Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)

Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang memiliki 3 prinsip, yaitu: (1) penemuan kembali secara terbimbing dan matematisasi progresif, (2 ) fenomena didaktik, dan (3) pengembangan model sendiri oleh siswa. Ketiga prinsip tersebut kemudian dioperasionalkan ke dalam lima karakteristik, yaitu (1) menggunakan masalah real sebagai langkah awal, (2) menggunakan model matematika yang dikembangkan siswa; (3) mempertimbangkan kontribusi siswa; (4) mengoptimalkan interaksi siswa dengan temannya, siswa dengan guru dan sarana pendukung lain; dan (5) mempertimbangkan keterkaitan antar materi pelajaran.

Menurut Marpaung (2001:3), PMR dilandasi oleh pandangan bahwa siswa harus aktif, tidak boleh pasif. Siswa harus aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematika. Siswa didorong dan diberi kebebasan untuk mengekspresikan jalan pikirannya, menyelesaikan masalah menurut idenya, mengkomunikasikannya, dan pada saatnya belajar dari temannya sendiri.

Dari uraian di atas, jelas bahwa dalam PMR pembelajaran tidak dimulai dari definisi, teorema atau sifat-sifat kemudian dilanjutkan dengan contoh-contoh, seperti yang selama ini dilaksanakan di berbagai sekolah. Namun sifat-sifat, definisi dan teorema itu diharapkan seolah-olah ditemukan kembali oleh siswa melalui penyelesaian masalah kontekstual yang diberikan guru di awal pembelajaran. Jadi dalam PMR siswa didorong atau ditantang untuk aktif bekerja, bahkan diharapkan dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya.

2.1Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik

Fauzi (2002:) mengemukakan langkah-langkah dalam PMR, sebagai berikut:

a)        Memahami masalah kontekstual

b)        Menjelaskan masalah kontekstual

c)        Menyelesaikan masalah kontekstual

d)       Membandingkan dan mendiskusikan jawaban

e)        Menyimpulkan

2.2    Ciri Pembelajaran Matematika Realistik

Fauzan (2001:2) mengemukakan bahwa pembelajaran yang menggunakan PMR memiliki beberapa ciri, yaitu:

a)      Matematika dipandang sebagai kegiatan manusia sehari-hari, sehingga memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari (contextual problem) merupakan bagian yang esensial.

b)      Belajar matematika berarti bekerja dengan matematika (doing mathematics).

c)      Siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika di bawah bimbingan orang dewasa (guru).

d)     Proses belajar mengajar berlangsung secara interaktif dan siswa menjadi fokus dari semua aktivitas di kelas.

e)      Aktivitas yang dilakukan meliputi: menemukan masalah-masalah kontekstual (looking for problems), memecahkan masalah (solving problems), dan mengorganisir bahan ajar (organizing a subject matter).

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Matematika Realistik

·          Kelebihan Pembelajaran Matematika Realistik

  • Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa tentang keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan kegunaan pada umumnya bagi manusia.
  • Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
  • Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara yang satu dengan orang yang lain.

·          Kekurangan Pembelajaran Matematika Realistik

  • Tidak mudah untuk merubah pandangan yang mendasar tentang berbagai hal, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal atau masalah kontekstual, sedang perubahan itu merupakan syarat untuk dapat diterapkannya PMR.
  • Pencarian soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut dalam pembelajaran matematika realistik tidak selalu mudah untuk setiap pokok bahasan matematika yang dipelajari siswa.
  • Tidak mudah bagi guru untuk mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara dalam menyelesaikan soal atau memecahkan masalah.

3.        Model  Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar. Menggunakan model pembelajaran kooperatif mengubah peran guru dari peran yang berpusat pada gurunya ke pengelolaan siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Menurut teori konstruktivis, tugas  guru (pendidik) adalah memfasilitasi agar proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan pada  diri  tiap-tiap siswa terjadi secara optimal.

3.1 Ciri pembelajaran kooperatif

Menurut Ibrahim (2005:2), ciri dari pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya:

v  Struktur tugas.

v  Struktur tujuan.

v  Struktur penghargaan (Reward).

3.2   Tujuan pembelajaran kooperatif

Ibrahim (2005:7) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan menjadi tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu:

a)      Hasil belajar akademik.

b)        Penerimaan terhadap individu.

c)        Pengembangan keterampilan sosial.

 

C.      PENUTUP

Implementasi  PMR dengan setting kooperatif adalah  implementasi pembelajaran dengan penggunaan prinsip dan karakteristik PMR dalam menyusun langkah-langkah pembelajaran dengan setting kooperatif yang dimuat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Komentar
  1. Ajie D Sacka mengatakan:

    jneng q keri dwe

  2. qoiril anwar mengatakan:

    sugoi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s