PENGEMBANGAN DIRI MELALUI KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

Posted: 5 November 2009 in BK (Bimbingan Konseling)
Tag:

A. STRUKTUR KEGIATAN EKSTRA KURIKULER
1. Pengertian Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.
2. Visi dan Misi
a. Visi
Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
b. Misi
1) Menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka.
2) Menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.
3. Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
c. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
4. Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
b. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
c. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
d. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.
e. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
f. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.
5. Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).
b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.
c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.
d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya.
6. Format Kegiatan
a. Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.
b. Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.
c. Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.
d. Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.
e. Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan.

B. PERENCANAAN KEGIATAN
Perencanaan kegiatan ekstra kurikuler mengacu pada jenis-jenis kegiatan yang memuat unsur-unsur:
1. Sasaran kegiatan
2. Substansi kegiatan
3. Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta keorganisasiannya
4. Waktu dan tempat
5 Sarana

C. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan dilaksanakan secara langsung oleh guru, konselor dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah.
2. Kegiatan ekstra kurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksana sebagaimana telah direncanakan. (Lampiran 11)

D. PENILAIAN KEGIATAN
Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.

E. PELAKSANA KEGIATAN
Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau tenaga kependidikan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan pada substansi kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.

F. PENGAWASAN KEGIATAN
1. Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
2. Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara:
a. interen, oleh kepala sekolah/madrasah.
b. eksteren, oleh pihak yang secara struktural/fungsional memiliki kewenangan membina kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.
3. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.

Contoh Materi Pengembangan:
(1) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan pribadi, seperti:
􀁹Fasilitas olah raga; latihan bina raga; bela diri.
􀁹Sanggar seni dan budaya
􀁹Tempat peribadatan
􀁹Rehabilitasi penderita narkoba
(2) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan hubungan sosial, seperti:
􀁹Kegiatan gotong royong
􀁹Perjamuan
􀁹Seminar, lokakarya, diskusi, dan kegiatan kelompok lainnya
􀁹Rapat besar
(3) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan kemampuan belajar, seperti
􀁹Lembaga bimbingan belajar
􀁹Fasilitas belajar di sekolah
􀁹Sekolah-sekolah/madrasah lain
􀁹Perguruan tinggi
(4) Layanan Orientasi: Obyek-obyek implementasi karir, seperti:
􀁹Kursus-kursus keterampilan
􀁹Bengkel
􀁹Perusahaan/pabrik, industri
􀁹Kantor
􀁹Perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan
(5) Layanan Informasi: Informasi tentang perkembangan potensi, kemampuan dan kondisi pribadi, seperti:
􀁹Kecerdasan
􀁹Bakat
􀁹Minat
􀁹Karakteristik pribadi; pemahaman diri
􀁹Tugas perkembangan, tahap perkembangan
􀁹Gejala perkembangan tertentu
􀁹Perbedaan individual
􀁹Keunikan diri
(6) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial, seperti:
􀁹Pemahaman terhadap orang lain
􀁹Kiat berteman
􀁹Hubungan antarremaja
􀁹Hubungan dalam keluarga
􀁹Hubungan dengan guru, orangtua, pimpinan masyarakat
􀁹Data sosiogram
(7) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar, seperti:
􀁹Kiat belajar
􀁹Kegiatan belajar di dalam kelas
􀁹Belajar kelompok
􀁹Belajar mandiri
􀁹Hasil belajar mata pelajaran
􀁹Persiapan ulangan, ujian UAS dan UAN
(8) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan kondisi karir, seperti:
􀁹Hubungan antara bakat, minat, pekerjaan, dan pendidikan
􀁹Persyaratan karir
􀁹Pendidikan umum dan pendidikan kejuruan
􀁹Informasi karir/pekerjaan/pendidikan
(9), (10), (11), dan (12) Layanan Penempatan/Penyaluran: Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan pribadi, sosial, belajar, dan karir dapat dilakukan melalui penempatan di dalam kelas (berkenaan dengan tempat duduk), pada kelompok belajar; diskusi, magang; krida; latihan keberbakatan//prestasi, kegiatan lapangan, kepanitiaan, serta kegiatan layanan bimbingan/konseling kelompok. Masing-masing penempatan/penyaluran itu dapat dimaksudkan untuk mengembangkan satu atau lebih kemampuan peserta didik: kemampuan pribadi, sosial, belajar, karir.

(13) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan pribadi, seperti:
􀁹Mengatur jadwal kegiatan sehari-hari: di rumah, di sekolah, di luar rumah/sekolah.
􀁹Menyampaikan kondisi diri sendiri kepada orang lain
􀁹Mengambil keputusan
􀁹Menggunakan waktu senggang
􀁹Memperkuat ibadat keagamaan
􀁹Mengendalikan diri
􀁹Berpikir dan bersikap positif; apresiatif
􀁹Mematuhi peraturan lalu-lintas
(14) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sosial, seperti:
􀁹Cara berbicara dengan orang yang berbeda-beda (teman sebaya, orang yang lebih tua, anggota keluarga)
􀁹Kemampuan pidato
􀁹Menyampaikan pendapat secara lugu (asertive) kepada orang lain
􀁹Mendengar, memahami dan merespon secara tepat dan positif pendapat orang lain
􀁹Melihat kebaikan orang lain dan mengekspresikannya

􀁹 Menulis surat persahabatan
􀁹 Mengucapkan salam; terima kasih; meminta maaf
􀁹 Kemampuan berdiskusi; bermusyawarah
(15) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kegiatan dan penguasaan bahan belajar, seperti:
􀁹 Menyusun jadwal belajar
􀁹 Bertanya/menjawab di dalam kelas
􀁹 Meringkas materi bacaan
􀁹 Menyusun kalimat efektif dalam paragraf
􀁹 Menyusun laporan kegiatan/tugas pelajaran
􀁹 Menyusun makalah
(16) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam pengembangan karir, seperti:
􀁹 Menyalurkan bakat, minat, kegemaran yang mengarah ke karir tertentu
􀁹 Memelihara perabotan rumah tangga: pakaian, perabot, peralatan listrik
􀁹 Memperbaiki peralatan sederhana
􀁹 Menyusun lamaran pekerjaan; currikulum vitae
􀁹 Mempertimbangkan dan memilih pekerjaan
􀁹 Mempertimbangkan dan memilih pendidikan sesuai dengan arah karir
(17), (18), (19), dan (20) Layanan Konseling Perorangan: Materi yang dibahas dalam layanan konseling perorangan tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu, melainkan akan diungkapkan oleh klien ketika layanan dilaksanakan. Apapun masalah yang diungkapkan oleh klien (masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir), maka masalah itulah yang dibahas dalam layanan konseling perorangan. Dalam hal ini konselor dapat memanggil peserta didik (yaitu peserta didik yang menjadi tanggung jawab asuhannya) untuk diberikan layanan konseling untuk masalah tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir), namun konselor harus lebih mengutamakan masalah yang dikemukakan sendiri oleh peserta didik yang menerima layanan konseling perorangan.
a. Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan dan kondisi pribadi, seperti:
􀁹 Potensi diri
􀁹 Kiat menyalurkan bakat, minat, kegemaran, hobi
􀁹 Kebiasaan sehari-hari di rumah; kegiatan rutin, membantu orang tua, belajar
􀁹 Sikap terhadap narkoba; KKN; pembunuhan; perkosaan; perang
􀁹 Sikap terhadap bencana alam; kecelakaan; HAM; kemiskinan; anak terlantar
􀁹 Perbedaan individu
(22) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang Kemampuan dan kondisi hubungan sosial, seperti:
􀁹Hubungan muda-mudi
􀁹Suasana hubungan di sekolah: antarsiswa, guru-siswa, antarpersonil sekolah lainnya
􀁹Peristiwa sosial di masyarakat: demo brutal, bentrok antarwarga
􀁹Peranan RT/RW
􀁹Toleransi, solidaritas
(23) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan, kegiatan dan hasil belajar, seperti:
􀁹Kiat-kiat belajar; belajar sendiri; belajar kelompok
􀁹Sikap terhadap mata pelajaran; tugas/PR; suasana belajar di sekolah, perpustakaan, laboratorium
􀁹Sikap terhadap hasil ulangan, ujian
􀁹Masalah menyontek dalam ulangan/ujian
􀁹Pemanfaatan buku pelajaran
(24) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang pengembangan karir, seperti:
􀁹Hidup adalah untuk bekerja
􀁹Masa depan kita; masalah pengangguran; lowongan pekerjaan; PHK
􀁹Memilih pekerjaan; memilih pendidikan lanjutan
􀁹Masalah TKI/TKW
(25), (26), (27), dan (28) Layanan Konseling Kelompok: Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang dibahas dalam konseling kelompok tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan oleh masing-masing anggota kelompok. Apapun masalah yang diungkapkan oleh anggota kelompok tersebut, dan terpilih untuk dibicarakan (apakah masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir) itulah yang dibahas melalui layanan konseling kelompok. Dalam hal ini konselor dapat mengikutsertakan seorang atau lebih peserta didik yang diasuhnya untuk menjadi anggota kelompok dan menjalani layanan konseling kelompok dengan masalah tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir) dan dapat mengupayakan agar masalah tersebut dapat dibahas, namun konselor harus lebih mengutamakan masalah yang dipilih oleh kelompok untuk dibahas dalam konseling kelompok.
(29), (30), (31), (32) Layanan Konsultasi:
Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang dibahas dalam layanan konsultasi tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan oleh konsulti ketika layanan berlangsung. Apapun masalah yang diungkapkan oleh konsulti tentang peserta didik yang hendak dibantunya (apakah masalah pribadi, sosial, belajar , atau karir) itulah yang dibahas dalam layanan konsultasi. Konselor dapat memperkirakan apa yang hendak dikemukakan oleh konsulti untuk dibahas dalam layanan konsultasi, namun konselor harus mengutamakan pembahasan masalah yang dikemukakan sendiri oleh konsulti.
(33), (34), (35), (36) Layanan Mediasi:
Masalah yang menyebabkan perselisihan pada dasarnya adalah masalah sosial. Dalam hal ini layanan mediasi pertama-tama menangani hubungan sosial di antara pihak-pihak yang berselisih. Dalam pelaksanaan layanan mediasi boleh jadi akan muncul masalah pribadi, masalah belajar, masalah karir, dan masalah sosial lainnya yang perlu ditangani oleh konselor.
(37), (38), (39), (40) Aplikasi Instrumentasi:
Instrumen tes dan nontes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir bentuk dan isinya bermacam-macam, seperti:
􀁹Tes Inteligensi
􀁹Tes Bakat
􀁹Inventori Minat Karir
􀁹Inventori Kreativitas
􀁹Inventori Kepribadian: Self-Esteem; Locus of Control
􀁹Inventori Hubungan Sosial
􀁹Inventori Tahap Perkembangan
􀁹Sosiometri
􀁹Alat Ungkap Masalah: Masalah Belajar, dan Masalah-masalah lainnya
􀁹Tes Hasil Belajar
􀁹Tes Diagnostik
Masing-masing instrumen di atas ada yang mengukur atau mengungkapkan satu atau lebih kondisi diri peserta didik: kondisi diri pribadi, hubungan sosial, kemampuan belajar, dan atau arah/kemampuan karir.
(41) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi, seperti:
􀁹Identitas diri
􀁹Potensi dasar: inteligensi, bakat, minat
􀁹Identitas keluarga
􀁹Riwayat kesehatan
􀁹Catatan anekdot (kejadian khusus)
􀁹Masalah diri pribadi

(42) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial, seperti:
􀁹Sosiogram
􀁹Teman dekat
􀁹Data hubungan sosial
􀁹Masalah sosial
(43) Himpunan Data: Data kemampuan, kegiatan dan belajar, seperti:
􀁹Nilai hasil belajar
􀁹Data kegiatan belajar
􀁹Riwayat pendidikan
􀁹Masalah belajar
(44) Himpunan Data: Data kemampuan, arah dan persiapan karir, seperti:
􀁹Pekerjaan orang tua/keluarga
􀁹Bakat-minat karir; jurusan yang diambil
􀁹Masalah karir
(45) Konferensi Kasus: Masalah pribadi, seperti:
􀁹Sering absen; membolos
􀁹Tingkah laku menyimpang; nakal
(46) Konferensi Kasus: Masalah sosial, seperti:
􀁹Suka menyendiri
􀁹Menganggu teman
(47) Konferensi Kasus: Kasus masalah belajar, seperti:
􀁹Menganggu suasana kelas ketika sedang belajar
􀁹Lalai mengerjakan PR
􀁹Nilai pelajaran rendah
􀁹Sulit mengikuti pelajaran
(48) Konferensi Kasus: Masalah karir, seperti:
􀁹Masalah penjurusan
􀁹Pilihan karir
􀁹Kegiatan praktik; magang

(49), (50), (51), (52) Kunjungan Rumah: Kegiatan kunjungan rumah dapat membawa satu atau lebih masalah peserta didik (masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir) untuk dibicarakan dengan orang tua dan atau keluarga.
(53) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang perkembangan dan kehidupan pribadi, seperti:
􀁹Tahap-tahap perkembangan
􀁹Tugas-tugas perkembangan
􀁹Penampilan dan pengembangan bakat, minat, kegemaran
􀁹Kehidupan keagamaan
􀁹Bahan relaksasi
􀁹Motivasi berprestasi
􀁹Otobiografi: Kisah orang-orang sukses
(54) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang kemampuan hubungan sosial, seperti:
􀁹Suasana hubungan “Saya Oke, Kamu juga Oke”
􀁹Kiat bergaul
􀁹Kepemimpinan
􀁹Mengatasi konflik dengan win-win solution
(55) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang kemampuan dan kegiatan belajar, seperti:
􀁹Kiat belajar di sekolah
􀁹Panduan menulis makalah
􀁹Bagaimana menyiapkan dari untuk ulangan/ujian
􀁹Belajar secara mandiri
􀁹Belajar kelompok
(56) Tampilan Kepustakaan: Materi becaan, film, rekaman vidio dan audio tentang arah dan kehidupan karir, misalnya:
􀁹Apa bakat dan karir Anda?
􀁹Informasi karir
􀁹Panduan penjurusan
􀁹Panduan memilih sekolah lanjutan
􀁹Lowongan pekerjaan
􀁹Keselamatan kerja
􀁹Kiat sukses dalam karir
(57) , (58), (59), (60), Alih Tangan Kasus:
Materi alih tangan kasus merupakan pendalaman terhadap masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir peserta didik yang semula ditangani oleh konselor, dan selanjutnya memerlukan penanganan oleh pihak lain yang berkeahlian/berkewenangan.

TUJUAN BK

Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat:
(1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk:
(1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.
1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
• Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
• Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
• Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
• Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
• Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
• Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
• Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
• Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
• Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
• Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
• Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
• Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
• Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
• Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
• Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
• Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
• Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :
• Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
• Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
• Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
• Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
• Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
• Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
• Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
• Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

JENIS GURU

Di lembaga pendidikan formal guru menjalankan tugas pokok dan fungsi yang bersifat multi peran, yaitu sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih.
Istilah pendidik merujuk kepada pembinaan dan pengembangan efeksi peserta didik. Istilah pengajar merujuk kepada pembinaan dan pengembangan pengetahuan atau asah otak intelektual.
Istilah pelatih meskipun tidak lazim menjadi sebutan untuk seorang guru merujuk kepada pembinaan dan pengembangan keterampilan peserta didik seperti yang dilakukan oleh guru keterampilan.
Pada lembaga pendidikan dan pelatihan ( diklat ) pelatih atau disebut juga dengan widyaiswara melaksanakan tugas – tugas kepelatihan. Instruktur atau tutor bertugas membimbing atau melatih peserta kursus. Di sekolah dibentuk kelembagaan Bimbingan Penyuluhan atau Bimbingan Karir ( BK ) yang tugas pokok dan fungsinya dijalankan oleh guru BP/ BK. Guru, pelatih, pembimbing, tutor dan instruktur hanyalah sebagai kecil dari jenis – jenis tenaga kependidikan.

Cumi_group

About these ads
Komentar
  1. imas haedaroh, s.sos mengatakan:

    Tulisan tentang fungsi ekstrakilkuler yang dimuat cukup bagus dan dapat dijadikan referensi atau pembanding bagi sekolah sekolah yang lain… sukses yaaa…..

  2. dsuryadie mengatakan:

    minta kepustakaannya dunk, trutma yang prinsip ekstrakurikuler sumbernya dari mana.. butuh neh bwt skripsi. thank’s

    • Nenymoo mengatakan:

      Ituu SebAgiann Materi dari mata Kuliah sayaaaa…Yangg memberikan dosen sayaaa…
      Kalau ingi maw buat referensii tulis saja alamat BLog ini… kan bisa ambil pustaka dari internet…
      Thankssss…Udah Mampiiir…Salamm kenal…. mUga suksessss skripsinya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s